Uncategorized

Macau Pusat Kota Judi: Sejarah, Kemewahan, dan Tantangan Masa Depan

adultsforadults.org – Macau, wilayah administratif khusus di pesisir selatan Tiongkok, sering dijuluki sebagai “pusat kota judi dunia”. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Kota mungil dengan luas hanya 33 km² ini mampu menghasilkan pendapatan perjudian jauh melampaui Las Vegas. Dari kasino megah di Cotai Strip hingga warisan fantan house era kolonial Portugis, Macau adalah cermin bagaimana industri perjudian bisa membentuk identitas ekonomi, sosial, dan budaya sebuah kota.


Awal Mula: Dari Fantan House hingga Monopoli Stanley Ho

Jejak perjudian di Macau bisa ditelusuri sejak abad ke-19. Tahun 1849, pemerintah Portugis melegalkan perjudian demi meningkatkan pendapatan koloni. Pada akhir abad itu, sistem lisensi fantan house diterapkan. Lebih dari 200 rumah judi membayar sewa resmi kepada pemerintah .

Puncaknya terjadi pada 1962, ketika pemerintah Macau memberikan hak monopoli perjudian kepada Sociedade de Turismo e Diversões de Macau (STDM) milik Stanley Ho. Ia membawa perubahan besar: memperkenalkan permainan gaya Barat, membangun transportasi laut modern dari Hong Kong, dan mendirikan ikon seperti Casino Lisboa.

Monopoli itu bertahan hingga 2001. Namun setelah masa lisensi habis, pemerintah membuka pintu bagi operator asing. Langkah ini jadi titik balik yang membuat Macau berubah drastis.


Ekspansi Besar: Dari Lisboa ke Cotai Strip

Tahun 2002, Macau resmi mengakhiri monopoli dan memberikan lisensi baru kepada enam operator besar: Wynn Resorts, Las Vegas Sands, Galaxy Entertainment, MGM, Melco-PBL, dan SJM Holdings (lanjutan dari STDM). Sejak itu, investasi miliaran dolar masuk ke kota kecil ini.

Kasino-kasino raksasa bermunculan:

  • The Venetian Macao: resort kasino terbesar di dunia dengan 800 meja judi dan 3.400 mesin slot.

  • City of Dreams: kompleks hiburan modern dengan 550 meja dan 1.500 mesin.

  • Galaxy Cotai Mega Resort: punya pantai buatan dan kolam ombak.

Kawasan Cotai Strip—dulu rawa kosong—disulap jadi pusat kasino modern. Kini, Cotai dikenal sebagai “Versi Asia dari Las Vegas Strip.”

Baca juga tentang :


Ekonomi Macau: Bergantung pada Judi

Perjudian bukan sekadar hiburan di Macau, tapi juga urat nadi ekonomi. Data menunjukkan:

  • Sejak awal 1960-an, sekitar 50% pendapatan resmi pemerintah berasal dari pajak judi .

  • Tahun 2019, sebelum pandemi, 90% pendapatan pariwisata Macau didorong industri kasino.

  • Tahun 2020, pandemi COVID-19 membuat pendapatan judi anjlok 56% dan kunjungan wisata turun dari 3 juta per bulan jadi kurang dari 1 juta .

Macau bahkan disebut “ekonomi kasino satu-satunya di dunia”, karena hampir semua sektor bergantung pada industri ini: hotel, restoran, transportasi, hingga retail.


Dunia Kasino Macau: Dari Baccarat hingga Poker

Pengunjung kasino Macau mayoritas berasal dari Tiongkok daratan dan Hong Kong. Baccarat menjadi permainan paling populer, menyumbang lebih dari 80% pendapatan kasino .

Selain itu, ada berbagai permainan lain:

  • Roulette, Blackjack, Sic Bo, Fan Tan, Keno, dan mesin slot.

  • Poker baru resmi diperkenalkan pada 2007 lewat turnamen Asia Pacific Poker Tour di Galaxy StarWorld.

  • VIP room dengan taruhan super tinggi, difasilitasi oleh sistem junket (agen yang membawa high rollers).

Fenomena unik di meja baccarat Macau adalah ritual “squeezing the card”—membuka kartu sedikit demi sedikit sambil berdoa, meniup, bahkan memukul meja demi keberuntungan.


Sisi Gelap: Triad, Junket, dan Ketergantungan

Di balik gemerlap lampu kasino, ada sisi gelap yang tak bisa diabaikan.

1. Mafia Triad dan Casino Wars

Pada akhir 1990-an, Macau sempat dilanda “casino wars” antar geng Triad. Pertikaian ini menyebabkan lebih dari 120 kematian. Meski kini keamanan lebih ketat, isu pengaruh kriminal masih membayangi .

2. Sistem Junket

Agen junket mengatur kredit untuk pemain VIP, terutama dari Tiongkok. Sistem ini berjalan di area abu-abu hukum, sering dikaitkan dengan pencucian uang.

3. Ketergantungan Ekonomi

Karena judi mendominasi, ekonomi Macau sangat rapuh. Ketika Presiden Xi Jinping meluncurkan kampanye anti-korupsi, banyak pejabat dan pebisnis kaya Tiongkok mengurangi kunjungan, membuat pendapatan kasino menurun drastis.


Macau vs Las Vegas: Siapa Lebih Besar?

Banyak orang membandingkan Macau dengan Las Vegas. Fakta menarik:

  • Sejak 2007, Macau resmi melampaui Las Vegas Strip dalam pendapatan perjudian .

  • Pada 2013, pendapatan kasino Macau tercatat tujuh kali lebih besar daripada Vegas.

  • Bedanya, Vegas punya diversifikasi hiburan (konser, olahraga, MICE), sementara Macau masih sangat bergantung pada judi.

Dengan kata lain, Macau unggul di angka, tapi Vegas lebih beragam dalam atraksi.


Tantangan Masa Depan

Meski masih jadi pusat kota judi dunia, Macau menghadapi beberapa tantangan serius:

  1. Diversifikasi Ekonomi
    Pemerintah mendorong pariwisata non-judi: konvensi, kuliner, budaya, dan hiburan keluarga. Namun, kontribusinya masih kecil dibanding kasino.

  2. Kompetisi Regional
    Negara Asia lain mulai menyaingi, seperti Singapura dengan Marina Bay Sands, Filipina dengan Entertainment City Manila, hingga Korea Selatan.

  3. Regulasi dan Tekanan Politik
    Pemerintah Tiongkok semakin ketat soal arus uang, junket, dan anti-korupsi. Hal ini membuat operator kasino harus mencari pasar baru.

  4. Pandemi dan Krisis Global
    COVID-19 menunjukkan betapa rentannya Macau. Ketika wisatawan hilang, ekonomi langsung terpuruk.

Sebagai pusat kota judi dunia, Macau adalah contoh unik bagaimana perjudian bisa mengubah wajah sebuah kota. Dari fantan house era Portugis, monopoli Stanley Ho, hingga Cotai Strip yang megah, Macau kini dikenal sebagai ibukota kasino global.

Namun, di balik cahaya neon dan meja baccarat, Macau juga menyimpan sisi rapuh: ketergantungan ekonomi, bayangan kriminal, dan tekanan politik. Masa depan kota ini akan ditentukan oleh sejauh mana ia mampu keluar dari bayang-bayang kasino dan menemukan identitas baru di luar “pusat kota judi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *