Geopolitik 2026: Pergeseran Kekuatan dari Barat ke Global South
Politics & Society

Geopolitik Baru: Pergeseran Kekuatan Barat ke Global South

Geopolitik 2026: Pergeseran Kekuatan dari Barat ke Global South

adultsforadults.org – Ingatkah Anda satu dekade lalu? Ketika narasi dunia seakan hanya didikte dari Washington, London, atau Brussels? Pada masa itu, jika ada masalah global, mata dunia otomatis tertuju pada kelompok G7 untuk mencari solusi. Namun, imagine you’re duduk di tahun 2026 saat ini. Suasananya terasa berbeda, bukan? Faktanya, gravitasi politik dan ekonomi dunia tidak lagi berpusat secara eksklusif di Atlantik Utara.

Saat ini, kita sedang menyaksikan fenomena yang mungkin merupakan cerita paling signifikan di abad ke-21: sebuah pergeseran kekuatan dari Barat ke Global South. Ini bukan lagi sekadar ramalan akademis, melainkan realitas yang kita hirup sehari-hari. Bahkan, negara-negara yang dulu sering dipandang sebelah mata—atau hanya dianggap sebagai penerima bantuan—kini duduk di meja perundingan utama. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai pembuat aturan.

Pertanyaannya, apakah Barat benar-benar meredup, atau Global South yang baru saja bangun dari tidur panjangnya? Sebenarnya, fenomena ini lebih kompleks daripada sekadar “siapa menang dan siapa kalah”. Pada dasarnya, ini adalah tentang kelahiran tatanan dunia multipolar yang baru, yang lebih berisik, lebih rumit, namun mungkin lebih representatif. Oleh karena itu, mari kita bedah bagaimana pergeseran tektonik ini terjadi di tahun 2026.

Bukan Lagi Sekadar “Negara Berkembang”

Istilah “Global South”—yang mencakup negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin—seringkali disalahartikan hanya sebagai kumpulan negara miskin di selatan garis khatulistiwa. Padahal, di tahun 2026, definisi ini telah berevolusi menjadi identitas geopolitik yang kuat.

Sebagai buktinya, secara data, Dana Moneter Internasional (IMF) telah lama memproyeksikan bahwa kontribusi negara-negara emerging market terhadap pertumbuhan global akan terus melampaui negara maju. Meskipun Cina dan India tetap menjadi motor penggerak utama, namun jangan lupakan peran kekuatan menengah seperti Indonesia, Brasil, dan Turki. Insight: Global South bukan lagi tentang geografi, melainkan tentang sikap asertif kolektif. Akibatnya, mereka menuntut kesetaraan dalam lembaga internasional yang selama ini didominasi Barat, seperti PBB atau Bank Dunia, yang seringkali terasa usang dan tidak merefleksikan realitas kekuatan ekonomi saat ini.

BRICS+: Penantang Serius atau Sekadar Forum Diskusi?

Salah satu manifestasi paling nyata dari pergeseran ini adalah evolusi BRICS. Apa yang dimulai sebagai akronim investasi kini telah berubah menjadi blok geopolitik yang serius. Terlebih lagi, dengan ekspansi keanggotaan yang terjadi beberapa tahun lalu (menambah negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan UEA), kelompok ini sekarang mewakili porsi populasi dan produksi energi dunia yang masif.

When you think about it, ini adalah langkah berani. Dengan kata lain, BRICS+ di tahun 2026 bukan hanya sekadar “klub anti-Barat”, tetapi upaya untuk membangun arsitektur alternatif. Sedikit jab untuk negara Barat: mereka terlalu lama nyaman dengan asumsi bahwa semua negara ingin menjadi seperti mereka. Sebaliknya, BRICS+ menawarkan jalan lain—sebuah forum di mana negara-negara berkembang dapat berdagang dan berinvestasi tanpa terlalu didikte oleh standar politik Washington atau Brussels.

Diplomasi “Jalan Tengah” yang Semakin Lantang

Di tengah persaingan kekuatan besar (Great Power Competition) antara Amerika Serikat dan Cina, banyak negara Global South memilih jalan yang menarik: tidak memilih sama sekali.

Sebagai contoh, negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika semakin mahir memainkan “diplomasi transaksional”. Mereka menerima investasi infrastruktur dari Tiongkok, tetapi pada saat yang sama juga memperkuat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Selain itu, blok ini membeli minyak murah dari Rusia, sambil tetap berdagang dengan Eropa. Tip Geopolitik: Netralitas di era ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi untuk memaksimalkan keuntungan nasional. Kesimpulannya, negara-negara Global South menyadari bahwa posisi tawar mereka justru paling tinggi ketika mereka tidak terikat penuh pada satu blok manapun.

Pertarungan Sumber Daya: Nikel, Litium, dan Masa Depan Hijau

Ironi terbesar dari dekade ini adalah transisi energi hijau yang digembar-gemborkan Barat justru sangat bergantung pada Global South. Apakah kawasan Eropa menginginkan mobil listrik secara massal? Tentu mereka butuh suplai nikel dari Indonesia. Kemudian, jika pabrikan Amerika hendak memproduksi baterai canggih, mereka mutlak memerlukan litium dari “segitiga litium” di Amerika Selatan atau kobalt dari Kongo.

Dampaknya, kondisi ini menciptakan fenomena “nasionalisme sumber daya”. Negara-negara Selatan tidak lagi mau hanya menjadi pengekspor bahan mentah dengan harga murah. Oleh sebab itu, mereka menuntut hilirisasi—membangun pabrik pengolahan di dalam negeri—agar nilai tambahnya dinikmati rakyat sendiri. Tentu saja, ini adalah bentuk nyata kedaulatan ekonomi yang memaksa perusahaan multinasional Barat untuk mengubah model bisnis mereka.

Dedolarisasi: Mengurangi Ketergantungan pada Greenback

Salah satu pilar kekuatan Barat, khususnya AS, adalah dominasi Dolar dalam perdagangan global. Namun, di tahun 2026, tren “dedolarisasi” berjalan lambat tapi pasti.

Pada mulanya, pergerakan ini dipicu oleh kekhawatiran akan sanksi ekonomi unilateral yang sering digunakan AS. Alhasil, negara-negara Global South mulai memperbanyak penggunaan mata uang lokal untuk perdagangan bilateral. Contohnya, transaksi Yuan-Ruble, Rupee-Dirham, atau bahkan wacana mata uang bersama di kawasan tertentu semakin lazim. Analisis: Tujuannya bukan untuk menggantikan Dolar sepenuhnya dalam semalam—karena hal itu mustahil—tetapi untuk menciptakan jaring pengaman finansial. Singkatnya, ini adalah upaya mengurangi kerentanan terhadap guncangan kebijakan moneter The Fed di Amerika.

Demografi Adalah Takdir

Faktor terakhir, dan mungkin yang paling menentukan dalam jangka panjang, adalah demografi. Saat ini, peradaban Barat (Eropa, Jepang, dan sebagian AS) sedang menua dengan cepat, sehingga mereka menghadapi penyusutan angkatan kerja dan beban pensiun yang membengkak.

Sebaliknya, sebagian besar Global South, terutama Afrika dan Asia Selatan, sedang menikmati “bonus demografi”. Karena mereka memiliki populasi muda yang masif, maka ini berarti ketersediaan tenaga kerja yang berlimpah dan pasar konsumen yang terus tumbuh di masa depan. Pada akhirnya, gravitasi ekonomi akan senantiasa mengikuti di mana manusia berada.

Kesimpulan

Dunia di tahun 2026 adalah dunia yang sedang mencari keseimbangan baru. Tentu saja, pergeseran kekuatan dari Barat ke Global South bukanlah proses yang mulus tanpa gesekan; sebab fenomena ini penuh dengan ketegangan diplomatik dan persaingan ekonomi. Namun, satu hal yang pasti: era di mana segelintir negara Barat dapat mendikte arah dunia sendirian telah berakhir.

Bagi kita yang berada di negara berkembang, ini adalah momen yang menarik sekaligus menantang. Kita tidak lagi hanya menjadi penonton sejarah, tetapi justru menjadi aktor yang aktif membentuknya. Sebagai penutup, pertanyaannya sekarang, apakah kita siap memanfaatkan momentum ini untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih adil, atau kita hanya akan terjebak dalam persaingan kekuatan baru yang sama melelahkannya?