Pemikiran Michel Foucault: Evolusi Kekuasaan dari Daulat ke Regulasi Tubuh
Uncategorized

Pemikiran Michel Foucault: Evolusi Kekuasaan & Regulasi Tubuh

adultsforadults.org – Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kita semua secara sukarela bangun pagi, berdiri mengantre dengan rapi di depan kasir, atau merasa sangat bersalah ketika berat badan naik beberapa kilogram? Jika Anda menganggap itu hanya “etika” atau “pilihan hidup,” Michel Foucault mungkin akan tertawa di balik kacamata khasnya. Bagi filsuf asal Prancis ini, rutinitas sepele tersebut adalah bukti keberhasilan teknologi kekuasaan yang bekerja sangat halus hingga kita tak lagi merasakannya sebagai paksaan.

Dahulu, kekuasaan itu berisik, berdarah, dan terlihat jelas di lapangan kota. Namun, di dunia modern, kekuasaan telah bermutasi menjadi sesuatu yang sunyi, masuk ke dalam ruang kelas, rumah sakit, hingga ke dalam pikiran kita sendiri. Inilah inti dari Pemikiran Michel Foucault: Evolusi Kekuasaan dari Daulat ke Regulasi Tubuh. Kekuasaan tidak lagi sekadar menghukum mati, tetapi bertugas untuk “mengelola hidup.”

Mempelajari Foucault bukan berarti kita harus menjadi anarkis yang membenci aturan. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk menyadari bagaimana tubuh kita “dijinakkan” oleh sistem. Mari kita telusuri bagaimana pedang sang raja digantikan oleh timbangan dokter dan algoritma data dalam evolusi kontrol manusia ini.


Zaman Daulat: Ketika Kekuasaan Berarti Hak untuk Membunuh

Dalam karya monumentalnya, Discipline and Punish, Foucault membuka cerita dengan sangat mengerikan: eksekusi publik seorang tahanan bernama Damiens pada abad ke-18. Tubuhnya ditarik kuda hingga hancur di depan rakyat banyak. Inilah yang disebut Kekuasaan Daulat (Sovereign Power).

Pada era ini, kekuasaan berpusat pada sosok raja atau penguasa. Simbolnya adalah pedang. Hak penguasa adalah “membiarkan hidup atau membunuh.” Rakyat patuh karena takut akan kekerasan fisik yang nyata. Namun, Foucault mencatat bahwa cara ini sangat tidak efisien. Kekerasan publik sering kali justru memicu simpati rakyat terhadap si terhukum dan kemarahan terhadap sang raja. Kekuasaan jenis ini terlalu boros energi dan sering kali gagal mengontrol perilaku masyarakat secara mendalam.

Lahirnya Disiplin: Menciptakan “Tubuh yang Patuh”

Memasuki abad ke-19, sistem hukuman berubah drastis. Eksekusi publik menghilang dan digantikan oleh tembok-tembok penjara yang tertutup. Di sinilah Kekuasaan Disiplin lahir. Fokusnya bukan lagi menghancurkan tubuh, melainkan melatihnya.

Bayangkan Anda berada di sekolah atau barak militer. Ada jam dinding, ada baris-berbaris, dan ada pemeriksaan rutin. Tujuan dari Kekuasaan Disiplin adalah menciptakan docile bodies atau tubuh yang patuh dan berguna. Kekuasaan tidak lagi menunggu Anda melakukan kesalahan untuk dihukum, tetapi mengatur gerakan Anda sejak bangun tidur agar Anda menjadi mesin yang efisien bagi industri dan negara. Ketika Anda berpikir tentang itu, bukankah meja kantor yang seragam adalah bentuk modern dari barak militer tersebut?

Panopticon: Penjara Tanpa Penjaga yang Terlihat

Salah satu konsep paling terkenal dalam Pemikiran Michel Foucault: Evolusi Kekuasaan dari Daulat ke Regulasi Tubuh adalah Panopticon. Diambil dari desain penjara Jeremy Bentham, ini adalah sebuah menara pengawas di tengah sel-sel yang melingkar. Tahanan tidak pernah tahu kapan penjaga melihat mereka, sehingga mereka merasa “selalu diawasi.”

Efeknya luar biasa: para tahanan mulai mengawasi diri mereka sendiri. Mereka menjadi polisi bagi diri mereka sendiri. Inilah puncak keberhasilan kekuasaan modern. Kita tidak butuh polisi di setiap sudut jalan jika setiap warga negara sudah menanamkan “polisi” di dalam kepalanya. Di era digital, Panopticon ini bertransformasi menjadi kamera CCTV, skor kredit, hingga jumlah likes di media sosial yang mengatur bagaimana kita harus berpenampilan dan berperilaku.

Biopolitik: Kekuasaan yang Mengatur Populasi

Foucault melangkah lebih jauh dengan konsep Biopolitik atau Biopower. Jika Kekuasaan Daulat adalah hak untuk membunuh, maka kekuasaan modern adalah hak untuk “menjamin kehidupan.” Negara mulai terobsesi dengan data statistik: angka kelahiran, tingkat kematian, kesehatan masyarakat, hingga kebersihan lingkungan.

Kekuasaan kini masuk ke ranah privat: apa yang Anda makan, vaksin apa yang Anda terima, dan bagaimana Anda mengelola kesehatan reproduksi. Ini adalah bentuk regulasi tubuh secara massal. Negara mengontrol populasi bukan dengan ancaman kematian, melainkan dengan janji kesejahteraan dan kesehatan. Namun, di balik janji itu, ada standar “normal” yang dipaksakan. Siapa yang tidak sehat, siapa yang dianggap “gila,” atau siapa yang tidak produktif akan segera dipinggirkan dari sistem.

Normalisasi: Standar yang Menghakimi Kita

Bagaimana kekuasaan bekerja di meja makan atau di pusat kebugaran? Lewat proses yang disebut Foucault sebagai normalisasi. Kita terus-menerus dibandingkan dengan “rata-rata” atau “standar normal.”

Dokter memiliki grafik berat badan ideal, psikiater memiliki buku panduan gangguan jiwa, dan sekolah memiliki standar nilai minimum. Kita didorong untuk mengejar “kenormalan” tersebut. Jika kita berbeda, kita merasa ada yang salah dengan diri kita. Inilah kecerdikan sistem: kita tidak dipaksa oleh senjata, tetapi kita “memaksa diri sendiri” agar pas dengan cetakan masyarakat. Kita menjadi agen kekuasaan bagi diri kita sendiri dan orang di sekitar kita dengan memberikan penghakiman bagi mereka yang dianggap “tidak normal.”

Pengetahuan adalah Kekuasaan: Label yang Mengikat

Foucault pernah berujar bahwa pengetahuan tidaklah netral. Pengetahuan dan kekuasaan adalah dua sisi dari koin yang sama (power/knowledge). Ketika para ahli menciptakan kategori seperti “homoseksual,” “kriminal,” atau “pengangguran,” mereka sebenarnya sedang menciptakan alat kontrol.

Label-label ini memungkinkan sistem untuk memetakan, memantau, dan mengatur individu. Bayangkan jika tidak ada kategori “pasien,” maka rumah sakit tidak bisa mengatur tubuh seseorang. Dengan memberi nama pada sesuatu, kekuasaan mendapatkan akses untuk mengintervensi hal tersebut. Inilah mengapa debat mengenai data pribadi dan algoritma AI hari ini menjadi sangat krusial; karena siapa pun yang memegang data (pengetahuan), dia memegang kontrol atas tubuh dan perilaku kita.


Kesimpulan

Menyelami Pemikiran Michel Foucault: Evolusi Kekuasaan dari Daulat ke Regulasi Tubuh mungkin terasa sedikit suram, seolah kita terjebak dalam jaring laba-laba raksasa. Namun, tujuan Foucault bukanlah untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk memberikan kesadaran kritis. Dengan memahami bagaimana kekuasaan bekerja, kita bisa mulai mempertanyakan standar “normal” yang selama ini membebani kita.

Kekuasaan memang ada di mana-mana, tetapi Foucault juga mengatakan bahwa “di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan.” Perlawanan itu dimulai dengan kesadaran bahwa tubuh kita bukanlah milik negara atau algoritma, melainkan milik kita sendiri. Jadi, kapan terakhir kali Anda melakukan sesuatu murni karena keinginan sendiri, bukan karena standar masyarakat?